MAKNA FILOSOFIS DALAM TRADISI TUMBILOTOHE
KABUPATEN GORONTALO UTARA
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan
dalam meraih gelar Sarjana
Filsafat (S.Fil.I)
pada Jurusan Filsafat Agama
(FA)
Disusun Oleh :
Susanto Halaa Eda
NIM. 11 301 041
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SULTAN AMAI GORONTALO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
Hasrat ingin tahu
manusia berbeda dengan hasrat ingin tahu binatang dan tumbuhan, karena
disamping manusia memiliki instinct seperti
yang dimiliki hewan dan tumbuh-tumbuhan, manusia juga memiliki pikiran yang
mampu menciptakan kebudayaan.[1] Tradisi dalam masyarakat tertentu
merupakan bagian dari kebudayaan sebagai kreasi, akal budi, pikiran manusia, dan hasil
karya yang diciptakan oleh masyarakat tersebut. Dengan adanya tradisi, masyarakat dapat menunjukan perilaku yang berlaku disuatu
kelompok yang
merupakan nilai moral suatu etnis tertentu yang akhirnya menjadi kebiasaan-kebiasaan etnis atau suku tertentu termasuk juga budaya dan adat istiadat.
merupakan nilai moral suatu etnis tertentu yang akhirnya menjadi kebiasaan-kebiasaan etnis atau suku tertentu termasuk juga budaya dan adat istiadat.
Lahir dari rasa ingin
tahu tentang fenomena sebuah tradisi daerah sendiri yang mulai bergeser dari keasliannya inilah yang
mendorong peneliti untuk memperoleh jawabannya. Jika dipandang dari
pengertiannya, tradisi berasal dari bahasa latin yaitu traditio yang berarti diteruskan atau kebiasaan. Dalam pengertian
yang sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi
bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Hal yang paling mendasar dari
tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun
seringkali lisan. Karena tanpa adanya generasi yang meneruskan tradisi ini,
maka suatu tradisi suatu saat akan punah.[2] Berarti bahwa demi menjaga
adanya kepunahan sebuah tradisi ditentukan oleh manusia dewasa yang ada
sekarang.
Salah satu daerah yang
memiliki tradisi atau kebiasaan yang mewarisi keindahan tradisi nenek moyang adalah daerah Gorontalo dengan
tradisi Tumbilotohe. Tradisi
yang diwariskan leluhur ini harus diketahui secara keseluruhan oleh seluruh
masyarakat Gorontalo baik sejarahnya maupun tujuan dan makna yang terkandung didalamnya sehingga tradisi
ini akan mampu dipertahankan oleh seluruh lapisan masyarakat Gorontalo dan tidak akan mengakibatkan adanya pergeseran nilai
atau bahkan punah seiring perkembangan zaman.
Peneliti
tidak bermaksud meneliti tentang pergeseran nilai dalam tradisi Tumbilotohe, namun peneliti menyadari
bahwa terjadinya pergeseran nilai dalam suatu adat, budaya atau tradisi itu
bukan karena alasan harus mengimbangi perkembangan zaman terutama sulitnya
mendapatkan minyak tanah dan sekarang adalah zamannya kerlap kerlip lampu
listrik, tetapi karena masyarakat belum mengetahui makna dari tradisi Tumbilotohe yang sebenarnya yang merupakan bagian dari jati diri daerah Gorontalo.
Gemerlap
lampu listrik yang cocok pada zaman sekarang hanyalah alasan untuk mengimbangi
perkembangan zaman, dan alasan tentang sulitnya memperoleh minyak tanah mengakibatkan
tradisi Tumbilotohe semakin punah dan
jauh dari definisi dan makna yang sebenarnya.
Definisi Tumbilotohe terdiri dari 2 (Dua) suku
kata yaitu Tumbilo yang artinya
memasang atau menyalakan api dan Tohe
yang artinya lampu.[3]
Dalam pengertian lain, Tumbilo yaitu molumbilo, membakar, memasang, menyalakan tohe boyito.[4] Dari definisi ini sangat jelas bahwa lampu yang digunakan adalah lampu
dengan nyala api bukan dengan listrik. Hal ini diperjelas dalam definisi nyala
yaitu cahaya yang keluar dari api (sesuatu yang terbakar).[5] Sehingga
dapat dikatakan nyala adalah cahaya. Api adalah panas dan cahaya yang berasal
dari sesuatu yang terbakar ; nyala[6].
Disisi
lain dari hasil observasi awal, peneliti memandang bahwa Alikusu yang dihiasi janur kuning kemudian digantung lampu listrik
ibarat sebuah pohon terang.
Oleh karena itu, keaslian
definisi dan makna Tumbilotohe harus dipelihara dan dilestarikan
sehingga tidak mengalami pergeseran nilai dan kepunahan serta tetap pada
makna yang sebenarnya.
Dari berbagai masalah dan pertanyaan inilah peneliti berusaha menggali
informasi sebagai jawaban permasalahan bukan sekedar untuk menggugurkan salah
satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana, namun merasa terpanggil dan
merupakan bagian dari masyarakat Gorontalo yang merasa bertanggungjawab menjaga
keaslian dari sebuah tradisi sesuai nama dan maknanya.
Berdasarkan permasalahan
tersebut diatas, berikut peneliti uraikan pokok-pokok permasalahannya :
1. Dipandang
dari definisi tradisi, maka sebuah tradisi harus berlangsung dan diteruskan
sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilakukan dan sesuai dengan nama
tradisinya.
2. Menurut
definisi dari Tumbilotohe, maka
pelaksaan Tumbilotohe harus
menggunakan lampu yang dinyalakan dengan api dan bukan dinyalakan dengan lampu
listrik.
3. Dengan
adanya definisi tradisi dan definisi Tumbilotohe,
maka alasan pelaksanaan Tumbilotohe harus
menyesuaikan zaman dengan cara menggunakan lampu listrik dan alasan kurangnya
persediaan minyak tanah hanyalah alasan karena pelaksanaan bisa juga
menggunakan lampu Padamala yaitu
lampu yang dibuat dari pepeya yang dibelah 2 (Dua) dengan menggunakan bahan
bakar minyak kelapa dan menggunakan sumbu kapas. Padamala adalah lampu tanah liat (minyaknya minyak
kelapa dipakai pada zaman Jepang.[7]
4. Bila
Alikusu itu diibaratkan pohon dan
janur itu diibarat daunnya serta lampu yang digunakan pada tradisi Tumbilotohe adalah lampu listrik, maka
terlihat seperti pohon terang.
Makna filosofis dalam
tradisi Tumbilotohe oleh peneliti
bukan sekedar diwawancarai, kemudian dituangkan dalam sebuah karya ilmiah atau
sebagai maksud untuk menyelesaikan perkuliahan, namun hal ini disadari oleh
peneliti bahwa dalam pelaksanaan setiap adat istiadat dan budaya serta tradisi disebuah
daerah harus diketahui maknanya sehingga dapat diresapi makna setiap tindakan
dalam pelaksanaan setiap tradisi.
B. RUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah adalah suatu proses
dari mulai mengidentifikasi masalah atau topik penelitian sampai merumuskan
masalah pokok. Proses demikian disebut dengan permasalahan.[8] Berawal dari permasalahan
diatas, maka yang menjadi sub masalah pokok yang akan dibahas dalam penelitian
adalah :
1. Bagaimana pelaksanaan tradisi Tumbilotohe di Desa Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo
Utara ?
2. Bagaimana makna filosofi dari tradisi Tumbilotohe di Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian adalah merupakan
rumusan dari apa yang hendak dicapai oleh peneliti dalam penelitiannya.[9] Sehingga dari rumusan
masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan tradisi Tumbilotohe di Desa Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo
Utara
2. Untuk memahami makna filosofi pada
pelaksanaan tradisi Tumbilotohe di Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat
penelitian dalam meneliti makna filosofis dalam tradisi Tumbilotohe adalah sebagai berikut :
1. TEORITIS
a. Sebagai
bentuk upaya untuk terlibat langsung dalam memahami tradisi pelaksanaan Tumbilotohe dan keterlibatan dalam
memberikan ide terhadap kelangsungan tradisi Tumbilotohe.
b. Peneliti memperoleh gambaran dan pengalaman
dalam pelaksanaan penelitian sebagai realisasi tanggung jawab ilmiah sebagai
mahasiswa.
c.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi
motivasi untuk memelihara dan terus melestarikan tradisi pelaksanaan Tumbilotohe dari generasi ke generasi.
2. PRAKTIS
a. Bagi sebuah Institut Agama Islam Negeri
Sultan Amai Gorontalo diharapkan agar penelitian ini merupakan sebuah informasi yang akan menambah pengetahuan ke generasi
selanjutnya melalui pembelajaran yang berkaitan dengan mata kuliah yang ada
pada Institut sebagai subjek pembelajaran.
b. Sebagai bentuk tindak lanjut dan partisipasi
dalam memelihara tradisi Tumbilotohe
sebagai ilmu pengetahuan dalam pelestarian ciri khas dan jati diri Gorontalo.
c. Dengan mengetahui makna filosofi dari
tradisi pelaksanaan Tumbilotohe
diharapkan menjadi sebuah motivasi dan bukan sekedar ikut-ikutan dalam
melaksanakannya, bahkan diharapkan adanya peningkatan yang bernilai sangat
sensasional dibandingkan tahun-tahun yang telah dilalui.
E. PENGERTIAN JUDUL DAN DEFINISI OPERASIONAL
1. PENGERTIAN JUDUL
Untuk menghindari
kesalahpahaman dalam menafsirkan judul, maka peneliti akan menguraikan
penafsiran sebagai berikut :
a. “Makna”
adalah maksud pembicara atau penulis atau pengertian yang diberikan kepada
sesuatu kebahasaan. Sedangkan kalau bermakna adalah berarti atau mempunyai
(mengandung) arti penting (dalam).[10]
b. “Filosofi”
yang merupakan istilah dalam bahasa Inggris Philosophy
yang dikenal dalam istilah bahasa Arab Falsafah,
sedangkan dalam bahasa Yunani dengan kata Philosophia
yang berasal dari kata Philein yang
berarti cinta dan Sophia yang berarti
kebijaksanaan, sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta
kebijaksanaan.[11]
c. “Tradisi”
adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan
dimasyarakat atau penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada
merupakan yang paling baik dan benar.[12]
d. “Tumbilotohe” adalah kata
atau istilah yang terdiri dari 2 (Dua) suku kata yaitu tumbilo yang artinya memasang atau menyalakan api dan tohe yang artinya lampu.[13]
2. DEFINISI OPERASIONAL
Dari beberapa pengertian istilah diatas,
maka secara operasional penelitian ini membahas masalah arti secara mendalam
yang terkandung didalam suatu kebiasaan pelaksanaan kegiatan Tumbilotohe (menyalakan lampu dengan
api) disetiap 3 (Tiga) malam terakhir bulan Ramadhan didaerah Gorontalo.
F. TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian ini pernah
diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya, maka peneliti berharap bahwa
pembaca tidak menyamakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya sebab hal
ini tidak mengandung unsur plagiat
dan memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya serta mempunyai kekhususan
dalam penelitian ini terutama menyangkut pokok permasalahan karena pokok
permasalahan dalam judul ini menyangkut makna filosofis yang merupakan dasar
atau alasan setiap manusia dalam melakukan segala hal.
Berikut hasil penelitian sebelumnya oleh saudari Maryam Kilo
dengan judul “Tradisi Tumbilotohe (Pasang
Lampu) Pada Masyarakat Gorontalo Ditinjau dari Aqidah Islam”. Studi Kasus Desa
Karya Mukti Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo, Mahasiswa Jurusan
Filsafat Agama (FA), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah pada Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Tahun 2014.
Adapun perbedaan penelitian oleh saudari Maryam Kilo dengan judul “Tradisi Tumbilotohe (Pasang Lampu) Pada
Masyarakat Gorontalo Ditinjau dari Aqidah Islam”. Studi Kasus Desa Karya Mukti
Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo membahas tentang pengertian adat “al-urf”, pengertian dan ruang lingkup
tradisi, dan lebih banyak membahas tentang pengertian dan kedudukan aqidah
dalam islam, hubungan antara aqidah islam dan tradisi, serta secara nyata hanya
mengungkap perilaku yang nampak dari pelaksanaan sebuah tradisi. Sedangkan
judul “Makna Filosofis Dalam Tradisi
Tumbilotohe” yang akan diteliti oleh peneliti selain mengungkap makna
dibalik sebuah tindakan dalam melaksanakan tradisi Tumbilotohe, juga mencantumkan
:
BAB I : Pendahuluan
yang diawali dengan latar belakang masalah yaitu mempermasalahkan definisi
tradisi yaitu kebiasaan secara terus menerus, definisi Tumbilo yang cocok digunakan pada lampu yang menggunakan nyala api
bukan lampu yang bersumber pada listrik yang merupakan alasan perkembangan
zaman dan sulitnya memperoleh minyak tanah dan agar tidak terlihat seperti
pelaksanaan pohon terang, yang dilanjutkan dengan rumusan masalah, tujuan
masalah yang akan menjawab permasalahan diatas dan memperoleh makna filosofis
dalam tradisi Tumbilotohe,
dilanjutkan dengan manfaat penelitian, pengertian judul dan definisi
operasional yaitu arti
secara mendalam yang terkandung didalam suatu kebiasaan pelaksanaan kegiatan Tumbilotohe yang diakhiri dengan
perbandingan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dituangkan dalam
kajian pustaka.
BAB II : Landasan
teori yang membahas tentang hakekat makna filosofi yang terdiri dari pengertian
makna, pengertian filosofi dan membahas tentang makna filosofi, dilanjutkan
dengan hakekat tradisi Tumbilotohe
yang terdiri dari pengertian tradisi, pengertian Tumbilotohe, pengertian tradisi Tumbilotohe,
sejarah tradisi Tumbilotohe, dasar
pelaksanaan Tumbilotohe, dan
nilai-nilai tradisi Tumbilotohe.
BAB III : Metode
penelitian yang membahas tentang jenis dan pendekatan penelitian, kehadiran
peneliti, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, teknik
analisis data, dan pengecekan keabsahan data.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. HAKEKAT MAKNA FILOSOFI
1. PENGERTIAN MAKNA
Pemahaman makna (bahasa Inggris : sense) dibedakan dari arti (bahasa
Inggris : meaning) didalam semantik.
Makna adalah pertautan yang ada diantara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama
kata-kata). Makna menurut Palmer (1976: 30) hanya menyangkut intrabahasa.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Lyons (1977: 204) menyebutkan bahwa mengkaji
atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang
berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda
dari kata-kata lain. Arti dalam hal ini menyangkut makna leksikal yang
cenderung terdapat dalam kamus leksikon.[14]
2. PENGERTIAN
FILOSOFIS
Phytagoras seorang
filsuf Yunani klasik mengambil kata filsafat dari dua kata berbahasa Yunani,
yaitu philo dan shopia. Philo berarti
cinta, sedangkan shopia berarti
bijaksana. Jadi, kata philoshopia
berarti cinta kepada kebijaksanaan.[15]
Filsafat secara terminologi adalah arti yang
dikandung oleh istilah filsafat.
a. Plato
berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai
pengetahuan tentang kebenaran yang asli.[16]
b. Aristoteles
berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran
yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan).[17]
c. Menurut
Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pangkal semua
pengetahuan yang didalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat
pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.[18]
d. Menurut
Hasbullah Bakry, ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu
dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan juga manusia sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah
mencapai pengetahuan itu.[19]
3. PENGERTIAN MAKNA FILSAFAT
Bahasa berfungsi
sebagai simbolik, emotif, dan afektif. Ada dua cara manusia untuk mendapatkan
ilmu pengetahuan yang benar, yaitu rasionalisme dan empirisme.[20] Semantik sebagai ilmu
mempelajari kemaknaan dalam bahasa sebagaimana adanya dan terbatas pada
pengalaman manusia. Secara ontologi semantik membatasi masalah yang dikajinya
hanya pada masalah yang ada pada ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia,
sedangkan psikologi mempelajari gejala kejiawaan yang berada dalam jangkauan
pemikiran manusia.[21]
Adapun makna yang
terdapat dalam filsafat adalah :
a. Filsafat
adalah suatu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta.
b. Filsafat
adalah suatu metode berpikir reflektif, dan penelitian penalaran.
c. Filsafat
adalah suatu perangkat masalah-masalah.
d. Filsafat
adalah seperangkat teori dan sistem berpikir.[22]
Kegiatan berfilsafat adalah kegiatan berpikir dengan cara sebagai
berikut :
a. Mendalam yaitu
dilakukan sedemikian rupa hingga dicari sampai kebatas akal tidak sanggup lagi.
b. Radikal yaitu sampai
keakar-akarnya hingga tidak ada lagi yang tersisa.
c. Sistematik yaitu
dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berpikir tertentu.
d. Universal yaitu tidak
dibatasi hanya pada 1(Satu) kepentingan kelompok tertentu tetapi secara
menyeluruh.[23]
B. HAKEKAT
TRADISI TUMBILOTOHE
1. PENGERTIAN
TRADISI
Tradisi adalah sebuah kata yang
sangat akrab terdengar dan terdapat di segala
bidang. Tradisi menurut etimologi adalah kata
yang mengacu pada adat atau kebiasaan
yang turun temurun, atau peraturan yang
dijalankan masyarakat.[24]
Tradisi adalah hasil karya
masyarakat, begitupun dengan budaya. Keduanya
saling mempengaruhi. Kedua kata ini
merupakan personafikasi dari sebuah makna
hukum tidak tertulis, dan hukum tak tertulis
ini menjadi patokan norma dalam masyarakat
yang dianggap baik dan benar.[25]
Secara pasti, tradisi lahir bersama dengan kemunculan manusia
dimuka bumi. Tradisi berevolusi menjadi budaya. Itulah sebab sehingga keduanya
merupakan personifikasi. Budaya adalah cara hidup yang dipatuhi oleh anggota
masyarakat atas dasar kesepakatan bersama.[26]
Tanpa tradisi tidak mungkin
suatu kebudayaan akan hidup dan langgeng. Dengan tradisi hubungan antara
individu dengan masyarakatnya bisa harmonis. Dengan tradisi sistem kebudayaan
akan menjadi kokoh. Bila tradisi dihilangkan maka ada harapan suatu kebudayaan
akan berakhir disaat itu juga.[27]
2. PENGERTIAN TUMBILOTOHE
Tumbilotohe
secara morfologi berasal dari dua kata yaitu Tumbilo berarti pasang atau nyalakan. Tohe berarti lampu Tumbilotohe berarti pasang lampu. Lampu
yang dimaksud pada masa lampau adalah Tohetutu
atau lampu asli (Tohe = lampu, Tutu (Otutu) = yang asli).[28]
3. PENGERTIAN
TRADISI TUMBILOTOHE
Tradisi Tumbilotohe adalah tradisi yang sudah membudaya di daerah Gorontalo
setiap tahun diakhir bulan Ramadhan atau setiap malamnya selalu dirayakan tradisi
menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo.[29]
3.1 SEJARAH TRADISI TUMBILOTOHE
Sejarah adalah suatu
rentetan kejadian yang berlangsung didalam kehidupan masyarakat manusia.
Rentetan kejadian tersebut tidak terjadi secara kebetulan, namun berlangsung
dalam kesengajaan.[30]
Menurut sejarah
tradisi Tumbilotohe ini berlangsung
sejak abad XV Masehi. Pada jaman dulu lampu yang digunakan untuk Tumbilotohe masih terbuat dari wamuta
atau seludang yang diruncingkan kemudian dibakar. Alat ini dikenal dengan
istilah Wango-wango yang mungkin
berasal dari kata Bango-bango yang
artinya terang benderang.[31]
Dalam perkembangannya Tumbilotohe dijadikan ajang untuk
membangun solidaritas umat manusia, dimana umat islam di Gorontalo diajarkan
tentang pentingnya membantu orang lain melalui zakat. Dimasa kejayaan islam di
Gorontalo pada masa lampau, Tumbilotohe menjadi suatu kegiatan fenomenal karena
hal ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, dimana dalam bulan Ramadhan
diwajibkan untuk membayar zakat. Disitulah kearifan lokal tepatnya pada 3
(Tiga) malam terakhir menjelang idul fitri merupakan puncak pembayaran zakat
melalui pengurus zakat. Maka fungsi lampu yang dipakai dalam tradisi Tumbilotohe tersebut adalah untuk
menerangi jalan-jalan yang dilewati masyarakat untuk mengantar zakat.
Seiring berjalannya
waktu, maka Tohe yang digunakan mulai
mengalami pergeseran dengan menggunakan Tohetutu
atau damar, yakni semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika
dibakar. Kemudian berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu
dari kapas dan minyak kelapa dengan menggunakan wadah seperti Kima, yaitu sejenis kerang dan pepaya
yang dipotong dua atau terkadang juga terbuat dari bambu atau Hulapa yang kesemuanya itu dikenal
dengan istilah Padamala.[32]
Tradisi awal Tumbilotohe sebenarnya berawal dari Alikusu. Itulah ciri khas Tumbilotohe yang diwariskan leluhur
Gorontalo. Alikusu adalah kerangka
yang membentuk seperti kubah masjid yang terbuat dari bambu atau Talilo dan pohon sejenis disebut Wawohu, maupun kerangka yang menggunakan
kayu menyerupai kubah masjid.
3.2 DASAR PELAKSANAAN TRADISI TUMBILOTOHE
a. Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada
penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama.
Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat dengan suka rela menyediakan
keperluan yang dibutuhkan terutama minyak tanah. [33]
Masyarakat
pada umumnya memiliki keikhlasan dalam melaksanakannya.
b. Berkaitan dengan
landasan diatas, maka pemasangan lampu yang dimulai dari maghrib hingga
menjelang subuh ini bertujuan untuk menerangi jalan menuju masjid karena pada zaman
itu penerangan masih kurang[35].
Alasan pelaksanaan tradisi Tumbilotohe ini juga memiliki nilai
akhlak.
“Daripada Abu Hurairah r.a.
daripada Nabi SAW, Baginda telah bersabda: Barangsiapa yang melepaskan seorang
mukmin dari pada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya
Allah akan melepaskannya dari pada satu kesusahan dari pada kesusahan-kesusahan Qiamat. Barang siapa yang mempermudahkan
bagi orang susah, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya di dunia dan di
akhirat. Barangsiapa yang menutup ke’aiban seorang muslim, nescaya Allah akan
menutup ke’aibannya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa bersedia menolong
hambaNya selagi mana dia suka menolong saudaranya. Barangsiapa yang melalui
suatu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya
suatu jalan menuju ke syurga. Sesuatu kaum tidak berkumpul di salah sebuah
rumah-rumah Allah (iaitu masjid) sambil mereka membaca Kitab Allah dan
mengkajinya sesama mereka melainkan suasana ketenangan akan turun ke atas
mereka, rahmat akan melitupi mereka dan mereka akan di kelilingi oleh para
malaikat dan Allah akan menyebut (perihal) mereka kepada orang-orang yang
berada di sisiNya. Barang siapa yang terlambat amalannya, nescaya nasab keturunannya tidak
mampu mempercepatkannya.”[36]
c. Berkaitan dengan alasan
diatas, Tumbilotohe juga bermaksud
untuk mendorong warga agar tetap beramai-ramai kemasjid agar ibadah puasa
benar-benar menjadi sempurna, tuntas sehingga ibadah puasa betul-betul mencapai
totalitasnya,[37]
melaksanakan ibadah tarwih dan tadarus sepanjang malam.[38]
Artinya : “Sesungguhnya Aku
telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang penuh berkah”.
(QS. Ad-Dukhan : 3)[39]
Artinya : “Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini”. (QS. Al-Jasiyah : 20)[40]
d. Perayaan Malam Tumbilotohe
memberi makna sebagai penerangan bagi umat Muslim yang ingin beribadah ke
masjid dan beribadah untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar. Saat malam Lailatul
Qadar, orang-orang berbondong-bondong ke masjid untuk mendengarkan ceramah demi
mendapatkan pencerahan yang diidentikkan dengan lampu-lampu yang dipasangi untuk penerangan.
Pemasangan lampu itu mengingatkan bahwa kitab suci Al-Quran membawa jalan
terang bagi umat manusia agar kembali hidup dalam kebenaran sekaligus menerangi
orang-orang yang berada di sekitarnya.[41]
“Carilah lailatul qadar pada malam-malam
ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim)[42]
“Nabi SAW bersabda, Lailatul Qadar terjadi pada malam kedua puluh
tujuh”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)[43]
Pendapat
lain mengatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal dua puluh lima, atau dua pulh
tujuh, atau dua puluh Sembilan dibualan Ramadhan.[44]
e. Tumbilotohe adalah suatu tradisi suku Gorontalo sebagai rangkaian
kegiatan dibulan Ramadhan dan pada malam pertama Tumbilotohe, zakat fitrah mulai dihantar oleh masing-masing diri
pribadi kepada yang berhak menerimanya...”.[45]
“Nabi SAW bersabda, Zakat fitrah sebagai pencuci bagi yang berpuasa dari hal yang sia-sia dan tindakan keji,
serta member makan bagi orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum
sholat Id, maka ia menjadi zakat yang diterima,. Dan barang siapa yang
menunaikannya setelah sholat Id, maka ia seperti sedekah biasa”.
(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lain-lain)[46]
f. Tradisi merupakan suatu prestasi kreasi manusia
yang a material artinya berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni dan
sebagainya. Hal
ini dibuktikan dengan tradisi Tumbilotohe
menjadi magnet pariwisata dan pada tahun 2007, malam Tumbilotohe masuk
Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil menyalakan 5.000.000.000 lampu.[47]
3.3 NILAI-NILAI TRADISI TUMBILOTOHE
Nilai-nilai dalam tradisi Tumbilotohe diuraikan sebagai berikut :
a. Nilai
Sejarah
Merupakan
bagian dari sejarah perkembangan syiar islam dimasyarakat Gorontalo.
b. Nilai
Budaya
Yaitu
merupakan tradisi yang membudaya bagi masyarakat muslim menjelang idul fitri.
c. Nilai
Sosial
Yaitu
mulai 27 Ramadhan masyarakat melaksanakan penyerahan / penerimaan zakat fitrah[48]
BAB III
METODE
PENELITIAN
Metode adalah
suatu cara, jalan, petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis, sehingga memiliki
sifat yang praktis. Adapun metodologi disebut sebagai Science of Methods’, yaitu ilmu yang membiacarakan cara, jalan atau
petunjuk praktis dalam penilitian.[49]
A. JENIS DAN PENDEKATAN PENELITIAN
1. JENIS PENELITIAN
Dalam penelitian
ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Rancangan
deskriptif adalah memberikan gambaran yang jelas dan akurat tentang material
dan fenomena yang sedang diteliti. Penelitian deskriptif bertujuan untuk
medeskriptifkan apa yang saat ini berlaku.[50] Kualitatif yaitu penelitian
yang memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari
perwujudan dari satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia.[51] Data yang
diperoleh (berupa kata-kata dan perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk
bilangan atau statistik, melainkan tetap dalam kualitatif yang memiliki arti
yang lebih kaya dari sekedar angka atau frekuensi (deskriptif analitik).[52]
Penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata (bias lisan untuk penelitian social, budaya,
filsafat, catatan-catatan yang berhubungan dengan makna, nilai serta
pengertian.[53]
Dalam penelitian
ini peneliti berusaha memaparkan atau menggambarkan data temuan penelitian
dalam bentuk kalimat-kalimat berupa keterangan atau pernyataan-pernyataan dari
respon sesuai dengan kenyataan yang ada. Alasan digunakan pendekatan ini karena
ditinjau dari data yang diperoleh yaitu berupa data dalam bentuk kategori atau
atribut. Disamping itu, proses pengumpulan data dan bentuk pemecahan serta
analisanya lebih bersifat partisipatoris,
dimana peneliti pula dapat menjadi instrument.
2. PENDEKATAN PENELITIAN
Adapun pendekatan yang
digunakan peneliti dalam penelitian
ini adalah :
a. Pendekatan Fenomonologis yaitu berusaha memahami arti
peristiwa-peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam
situasi tertentu.[54] Dalam pendekatan
penelitian ini yang menjadi perhatian dan fenomena utama adalah tradisi Tumbilotohe yang merupakan bagian dari tradisi Gorontalo setiap hari ke-27 pada bulan Ramadhan.
b. Pendekatan Historis, bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa
yang telah terjadi pada masa lampau.[55] Dengan adanya pendekatan
historis, peneliti berusaha menemukan dan memahami peristiwa masa lampau dengan
cara menampilkan dan menafsirkan
fenomena melalui dokumenter bersifat dokumentasi maupun gambaran-gambaran
pendapat dan pemikiran tokoh yang berkaitan dengan tradisi Tumbilotohe.
c. Pendekatan Filosofis, yaitu peneliti berusaha memecahkan
masalah yang diteliti secara rasional melalui pemikiran yang terarah, mendalam
dan mendasar tentang hakekatnya dengan berpikir dalam bentuk analisa spekulatif
berdasarkan fenomena yang ada. Maksudnya adalah melihat suatu
permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan
memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan analisis spekulatif.[56]
B. KEHADIRAN PENELITI
Sesuai dengan
pendekatan penelitian yang digunakan, maka kehadiran peneliti mutlak
diperlukan. Hal ini disebabkan karena disamping pengumpul data seorang peneliti
dapat pula berfungsi sebagai intstrumen, partisipan penuh, pengamat partisipan,
atau pengamat penuh.
Kehadiran
peneliti dalam suatu penelitian lapangan sangat menentukan dalam memperoleh
data yang autentik untuk suatu karya ilmiah. Kehadiran peneliti ditempat
penelitian setelah menyusun rancangan penelitian dan memilih lapangan sebagai
objek penelitian.
C. LOKASI PENELITIAN
Dalam penelitian lapangan
atau penelitian kancah atau Field
Research adalah penelitian dilapangan atau dalam masyarakat, yang berarti
bahwa datanya diambil atau didapat dari lapangan atau masyarakat.[57] Sehingga itu, lokasi penelitian
adalah tempat penelitian memperoleh data yang diperlukan dalam membahas masalah
penelitian. Dalam hal ini peneliti mengambil lokasi penelitian di Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara.
Adapun alasan
peneliti memilih tempat
tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Guna
suksesnya penelitian maka peneliti mengambil lokasi yang mudah dijangkau.
2. Lokasi
kehidupan masyarakatnya masih erat dengan keaslian tradisi Tumbilotohe. Masyarakat dilokasi penelitian masih banyak
menggunakan penerangan dari lampu berbahan bakar minyak tanah sehingga
pelaksanaan tradisi Tumbilotohe masih
erat dengan keaslian Tumbilotohe bahkan masih ada sebagian masyarakat yang menggunakan lampu jenis
Padamala yaitu lampu yang terbuat
dari pepaya yang dibelah dua dengan bahan bakar minyak kelapa dan sumbu yang
digunakan adalah kapas.
D. SUMBER
DATA
Sumber data adalah objek atau subjek
dimana data dapat diperoleh. Data ini dapat berupa kata-kata dan tindakan
orang-orang yang diwawancarai. Sumber data bisa
berupa orang (responden) yang diwawancarai dan hal atau situasi
yang diperoleh. Responden yaitu orang yang
merespon/menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik secara lisan maupun
tulisan.[58]
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Sumber data primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung dari objek yang
diteliti.[59] Yang menjadi sumber utama dalam penelitian ini seperti tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh masyarakat (orang-orang tua
terdahulu), sejarawan, atau kepala desa.
2. Sumber
data sekunder adalah data yang diperoleh
dari dokumen, publikasi yang sudah dalam bentuk jadi. Data sekunder adalah data
yang diperoleh melalui bahan kepustakaan.[60] Yang dimaksud suber data
sekunder berupa dokumentasi atau buku-buku tentang
tradisi Tumbilotohe. Penelitian tersebut mungkin juga mencantumkan materi deskriptif
mengenai peristiwa, tindakan, pranata, dan sudut pandang pelaku yang dapat
dipakai sebagai data dan dianalisis dengan suatu metode.[61]
E. METODE
PENGUMPULAN DATA
Pada proses
kegiatan penelitian, keberadaan data menjadi salah satu syarat dalam mencapai
keberhasilan suatu penelitian, karena pada dasarnya data adalah segala fakta
dan angka yang diperoleh dari hasil pencatatan peneliti yang dijadikan bahan
untuk menganalisis dan menyusun sebuah informasi, sedangkan informasi sendiri
menunjukkan hasil dari pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan.
Untuk memperoleh data yang diperlukan
dalam membahas masalah penelitian ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1. Library Research yaitu suatu pola
pengumpulan data dengan cara membaca dan memaknai secara langsung buku
referensi atau teori yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Research berarti
pencarian ulang, secara definitif ia merupakan suatu kegiatan yang sistematis
dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah.[62] Hal
ini menggunakan metode :
a. Mengutip
langsung yaitu penulis pembaca literatur kemudian mengutip dari teks tersebut
tanpa mengubah bahasa aslinya.
b. Kutipan
tidak langsung yaitu penulis membaca literatur yang dinilai berkaitan dengan
permasalahan yang dibahas kemudian mengambil intisari dari literatur tersebut
dengan mengubah bahasa aslinya.
2. Field Research yaitu pengumpulan data
dengan cara terjun langsung meneliti ke objek penelitian untuk memperoleh data
dengan menggunakan 3 (Tiga) metode :
a. Metode
Observasi yaitu pengamatan yang sengaja
dilakukan secara sistematis, didukung dengan pencatatan terhadap gejala-gejala
yang berhasil diamati.[63] Yaitu dengan melakukan pengamatan ke lokasi penelitian, merupakan
teknik awal yang digunakan untuk kemungkinan memperoleh kemudahan dalam
pengumpulan data umum objek penelitian.
b. Metode
Wawancara yaitu pada umumnya digunakan untuk
menggali keterangan mengenai cara berlaku yang telah menjadi kebiasaan hal-hal
yang dipercayai dan nilai-nilai yang dianut.[64] Teknik pengumpulan data dengan cara
mewawancarai langsung para responden baik tokoh-tokoh adat maupun orang-orang
tua terdahulu guna mendapatkan data lengkap data utama.
c. Metode
Dokumentasi merupakan metode yang dapat
dilakukan dengan sederhana, peneliti cukup memegang check-list untuk mencatat informasi atau data yang sudah ditetapkan.[65] teknik penelitian yang digunakan ini tujuannya untuk
mendapatkan data sebagai bahan relevansi untuk memperoleh data yang terkait
dengan masalah penelitian, yaitu dokumen yang berkaitan dengan tradisi Tumbilotohe.
F. TEKNIK
ANALISIS DATA
Proses selanjutnya dalam penelitian ini
adalah analisis data. Analisis kualitatif
dilakukan pada data yang tidak dapat dihitung, bersifat monografis atau
berwujud kasus-kasus, objek penelitiannya dipelajari secara utuh dan sepanjang itu
mengenai manusia maka hal tersebut menyangkut sejarah hidup manusia.[66] Dalam menganalisis data, peneliti menempuh
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Reduksi
data adalah memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang
hasil pengamatan, juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang
diperoleh bila diperlukan.[67]
2. Display
data yaitu data yang bertumpuk-tumpuk, laporan lapangan yang
tebal, sulit ditangani sulit melihat hutannya karena pohonnya.[68] dengan cara penyajian data yaitu
sekumpulan informasi tertulis yang diperoleh dari data yang telah direduksi
yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan.
3. Pengambilan
keputusan dan verifikasi adalah aktivitas memaknai data sehingga makna data
dapat ditemukan dalam bentuk tafsiran dan argumentasi.[69]
G. PENGECEKAN
KEABSAHAN DATA
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan
gambaran mengenai kebenaran data yang ditemukan oleh peneliti dilapangan. Cara
yang dilakukan peneliti adalah memperdalam observasi terhadap objek penelitian
dan memperpadat frekuensinya dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Seorang
peneliti termasuk juga instrument peneliti karena dibutuhkan keikutsertaannya
tidak hanya dalam waktu singkat tetapi juga memerlukan perpanjangan
keikutsertaan untuk meningkatkan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.
2. Ketekunan
pengamatan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat
relevan dengan persoalan yang sedang dibahas.
3. Triangulasi
dapat dilakukan dengan menguji pemahaman peneliti dengan pemahaman
informan tentang hal-hal yang diinformasikan informan kepada peneliti. Hal ini
perlu dilakukan mengingat dalam penelitian kualitatif, persoalan pemahaman
makna suatu hal bisa jadi berbeda antara orang satu dan lainnya. Termasuk juga
umpamanya adalah kemungkinan perbedaan pemahaman pemaknaan antara informan dan
peneliti.[70]
Triangulasi juga merupakan
suatu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang diluar
data sebagai pembanding.
a. Triangulasi
sumber data yaitu mengumpulkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber
data dengan melakukan pengecekan data (cek, cek ulang, cek silang). Pengecekan
adalah melakukan wawancara kepada 2 (Dua) atau lebih responden dengan pertanyaan
yang sama. Cek ulang berarti melakukan proses wawancara secara berulang dengan
mengajukan pertanyaan mengenai hal yang sama dalam waktu berlainan. Cek silang
berarti menggali keterangan tentang keadaan responden satu dengan yang lain.
b. Triangulasi
dengan metode dilakukan dengan cara :
1. Membandingkan
hasil pengamatan pertama dengan pengamatan berikutnya.
2. Membandingkan
hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
3. Membandingkan
hasil wawancara pertama dengan hasil wawancara berikutnya.
Penekanan dari hasil perbandingan ini
untuk mengetahui alasan-alasan terjadinya perbedaan data yang diperoleh selama
proses pengumpulan data.[71]
BAB
IV
PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
1. SEJARAH
SINGKAT TERBENTUKNYA DESA POPALO
Popalo berasal dari kata Taluhu Tilumopalo artinya adalah muara yang berpisah-pisah. Desa
Popalo awalnya merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Tolongio Kecamatan
Kwandang Kabupaten Gorontalo Provinsi Sulawesi
Utara. Pada tanggal 1 Desember 1992 ditetapkan menjadi desa
persiapan, kemudian tanggal 25 Mei 1994 menjadi desa defenitif yaitu desa
Popalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Provinsi Sulawesi Utara sebelum
Gorontalo ditetapkan menjadi provinsi ke-32 tanggal 22 Desember tahun 2000 dan
sebelum Kabupaten Gorontalo Utara ditetapkan menjadi sebuah kabupaten pada
tanggal 2 Januari tahun 2007.
2. LETAK
GEOGRAFIS DESA POPALO
Luas Desa Popalo 22,74 km2. Secara
geografis Desa Popalo dalam hal ini kantor desa terletak antara 00048’47.6”
LU dan 122049’09.9” BT. Desa Popalo merupakan desa yang berada pada
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara. Jarak Desa Popalo dengan ibu kota
kecamatan 7,3 km, dengan ibu kota kabupaten 7,7 km, dan dengan ibu kota
provinsi 59,1 km.
3. KEADAAN
PEMERINTAH DESA POPALO
Gambaran
perkembangan pemerintahan Desa Popalo pada masa sekarang ini sudah mengalami
kemajuan disegala bidang, terutama dalam bidang peningkatan produksi pertanian dan kelautan yang telah
berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama menyangkut masalah budi
daya rumput laut. Hal ini tidak lepas dari usaha pemerintah desa dalam
memperhatikan masyarakatnya dan selalu memberi dukungan kepada masyarakat agar
kesejahteraan masyarakat selalu meningkat.
TABEL 1
STRUKTUR
PEMERINTAHAN DESA POPALO
TAHUN
2014
NO
|
NAMA
|
JABATAN
|
1
|
Iyong Botutihe
|
Kepala Desa
|
2.
|
Gaflan Bausin, S.Pd.I
|
Sekertaris Desa
|
3.
|
Bendahara
|
Melianda Raisi
|
4.
|
Harlina Hadui
|
Ka. Ur. Pemerintahan
|
5.
|
Nopi Olinggahe
|
Ka. Ur. Pembangunan
|
6.
|
Melianda Raisi
|
Ka. Ur. Umum
|
7.
|
Linda Bilondatu
|
Ka. Dus. Pilobutuwa
|
8.
|
Amir Hadui
|
Ka. Dus. Iloheluma
|
9.
|
Hairun Halaa
|
Ka. Dus. Sipatana
|
10.
|
Salim Raisi
|
Ka. Dus. Iloponu
|
11.
|
Asia Raisi
|
Ka. Dus. Libuo
|
@Sumber
: Profil Desa Popalo
4. KEADAAN PENDUDUK DESA
POPALO
Jumlah penduduk Desa
Popalo adalah 949
jiwa, yang terdiri atas 428
laki-laki dan 521
perempuan, dengan sex ratio (Rasio Jenis Kelamin) 82. Kepadatan penduduk
Desa Popalo adalah 42
jiwa/km2. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Popalo adalah 249 KK dengan rata-rata
anggota keluarga berjumlah 4 jiwa.
TABEL 2
KEADAAN
PENDUDUK DESA POPALO
TAHUN
2014
LAKI-LAKI
|
PEREMPUAN
|
JUMLAH
|
428
|
521
|
949
|
@Sumber
: Profil Desa Popalo
4.1 SUMBER
MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT DESA POPALO
Mata pencaharian
penduduk Desa Popalo antara lain bergerak dibidang pertanian, hasil kelautan yaitu perikanan dan rumput laut, perdagangan. Adapun sarana penangkap
ikan yang digunakan oleh nelayan berupa motor tempel dan perahu tanpa
motor. Jenis alat tangkap yang digunakan berupa jaring insang (Gillnet). Sarana perekonomian di Desa
Popalo berupa 1 lokasi pasar tradisional.
4.2 KEADAAN
BANGUNAN PERUMAHAN DESA POPALO
Kualitas
bangunan rumah penduduk di Desa Popalo terdiri atas permanen dengan jumlah 36,
semi permanen 74, dan tidak permanen sebanyak 45. Dengan demikian total
keseluruhan bangunan rumah penduduk di Desa Popalo berjumlah 155. Jika dirinci
bangunan rumah penduduk menurut jenis dinding, maka 59 rumah memiliki dinding
tembok, 49 rumah memiliki dnding kayu, dan 47 rumah memiliki dinding bambu.
Jika dirinci bangunan rumah penduduk menurut jenis lantai, maka 15 rumah
memiliki lantai keramik, 126 rumah memiliki lantai semen, dan 14 rumah yang
masih berlantaikan tanah. Jika diirinci berdasarkan jenis atap, maka bangunan
rumah di Desa Popalo terdiri atas 124 rumah beratapkan seng dan 31 rumah
beratapkan rumbia. Jumlah keluarga yang menggunakan penerangan PLN dengan
meteran yaitu berjumlah 86 keluarga, PLN tanpa meteran berjumlah 23 keluarga,
dan 18 keluarga menggunakan tenaga diesel. Adapun sumber air minum di Desa
Popalo yaitu menggunakan sumur dengan digunakan oleh 203 keluarga.
4.2 KEADAAN UMAT BERAGAMA DESA
POPALO
TABEL 3
KEADAAN PENDUDUK
MENURUT AGAMA
TAHUN 2014
NO
|
AGAMA
|
JUMLAH
|
1.
|
Islam
|
699
|
2.
|
Protestan
|
101
|
3.
|
Pantekosta
|
-
|
4.
|
Katholik
|
-
|
5.
|
Hindu
|
-
|
6.
|
Budha
|
-
|
@Sumber
: Profil Desa Popalo
5. FASILITAS DI DESA POPALO
5.1 PENDIDIKAN
TABEL 4
KEADAAN FASILITAS
PENDIDIKAN DESA POPALO
TAHUN
2014
NO
|
FASILITAS PENDIDIKAN
|
JUMLAH
|
1.
|
PAUD/TK
|
1
|
2.
|
SDN 1 Popalo
|
1
|
3.
|
SMP Negeri 2 Anggrek
|
1
|
4.
|
SMK Kelautan Gorontalo Utara
|
1
|
@Sumber
: Profil Desa Popalo
5.2 KEADAAN
SARANA DAN PRASARANA DI DESAP POPALO
TABEL 5
KEADAAN
SARANA DAN PRASARANA DESA POPALO
TAHUN 2014
NO
|
SARANA DAN PRASARANA
|
JUMLAH
|
1.
|
Taman Kanak-Kanak
|
1
|
2.
|
Sekolah Dasar
|
1
|
3.
|
Sekolah Menengah Pertama
|
1
|
4.
|
Sekolah Menengah Atas/Sederajat
|
1
|
5.
|
Masjid dan Musholah
|
3
|
6.
|
Gereja
|
2
|
7.
|
Markas Brigif
22 Otamanasa
|
1
|
8.
|
Kantor Polisi Sektor Anggrek
|
1
|
9.
|
Pusat Kesehatan Masyarakat
|
1
|
10.
|
Pos Pelayanan Terpadu
|
1
|
11.
|
Kantor Urusan Agama
|
1
|
@Sumber
: Profil Desa Popalo
B. PELAKSANAAN TRADISI TUMBILOTOHE DI DESA POPALO KECAMATAN ANGGREK KABUPATEN GORONTALO
UTARA
Dalam pelaksanaan tradisi Tumbilotohe
menurut kebiasaan masyarakat Gorontalo pada umumnya dan masyarakat Desa Popalo
pada khususnya yang sudah menjalankan tradisi Tumbilotohe tersebut secara turun temurun bahwa sehari sebelum
pelaksanaannya, maka ada hal-hal penting yang harus dipersiapkan terlebih
dahulu.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan yang dilakukan oleh
peneliti, dalam pelaksanaan tradisi Tumbilotohe
terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. TAHAP PERSIAPAN
Menurut pendapat Bapak Herdi Halaa selaku
tokoh masyarakat bahwa menjelang pelaksanaan tradisi Tumbilotohe di Desa Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo
Utara, maka masyarakat setempat mempersiapkan alat dan bahan terlebih dahulu,
kemudian bahan-bahan tersebut akan dibuat dan dirangkai menjadi simbol-simbol.[72]
Adapun bahan-bahan yang akan dibuat atau dirangkai menjadi
simbol-simbol dalam tradisi Tumbilotohe menurut Bapak Irpan
Hadi adalah
sebagai berikut :
b. Daun Kelapa akan dipergunakan sebagai Janur
Kuning atau disebut Lale
c. Botol Mudah Pecah (bukan botol plastik atau
yang mudah terbakar) atau kaleng akan dijadikan tempat minyak tanah
d. Sumbu atau Tubu[75]
yang akan dipasang pada penutup botol atau penutup kaleng.
e. Bunga jenis Polohungo, Pisang atau Lambi,
dan Tebu atau Patodu sebagai hiasan
pada tiang Alikusu.[76]
2. TAHAP PEMBUATAN
Menurut pendapat Bapak Gaflan Bausin, S.Pd.I selaku Sekertaris
Desa Popalo mengatakan bahwa tahap pembuatan simbol-simbol tradisi Tumbilotohe adalah sebagai berikut :
a. Alikusu
Rangkaian Alikusu terbuat dari Balaki atau Talilo yang dibuat berbentuk huruf n yang kemudian diatasnya ada
rangkaian berbentuk kubah masjid yang terbuat dari Talilo yang sudah dibelah dan sudah dihaluskan. Setelah rangkaian Alikusu selesai, maka sebagian
masyarakat ada yang sudah meletakkan dengan posisi berdiri dan siap digunakan,
dan ada juga yang meletakkan atau memajangnya di pintu depan rumah nanti pada
hari pelaksanaannya sebelum buka waktu buka puasa atau sebelum waktu sholat magrib.
b. Tohe
Rangkaian Tohe terbuat dari Botol Mudah Pecah
(bukan botol plastik yang mudah terbakar) atau terbuat dari kaleng untuk diisi
minyak tanah.
c. Tubu
Tubu
atau sumbu biasanya menggunakan sumbu kompor atau kain yang dipotong dengan
lebar ± 2 cm dan panjang ± 15 cm (dengan syarat panjangnya akan tercelup pada
minyak tanah), kemudian dimasukan ke pipa kecil yang terbuat dari kaleng
sebagai tempat sumbu.
d. Lale,
Polohungo, Lambi dan Patodu
Lale diikat pada Talilo yang melengkung berbentuk kubah, Polohungo dan Patodu diikat pada tiang Alikusu
dan Lambi digantung pada Alikusu. Pemasangan keempat hiasan
tersebut, bagi sebagian masyarakat Desa Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten
Gorontalo Utara dipasang sehari sebelum pelaksanaan dan ada juga yang
memasangnya nanti pada hari pelaksanaannya yaitu waktu sore hari sampai sekitar
pukul 17.00 WITA.[77]
3. TAHAP PELAKSANAAN
Menurut
Bapak Andi Nurdin, S.Ag
selaku tokoh agama bahwa
saat pelaksanaan tradisi Tumbilotohe
akan dimulai secara bersamaan tepat setelah umat islam melakukan buka puasa dan
sholat magrib.
Dalam
proses menyalakan lampu, diawali oleh kepala keluarga sekaligus memimpin dalam
pembacaan surat Al-Qadr yang diikuti
oleh ibu rumah tangga dan anak-anak. Pembacaan surat Al-Qadr karena diyakini oleh masyarakat Desa Popalo sebagai malam ke-27
sebagai malam turunnya Lailatul Qadar
atau dikenal sebagai malam kemuliaan karena selain sebagai malam Lailatul Qadar, pada malam itu juga
sebagai malam permulaan turunnya Al-Qur’an. Pada malam itulah Allah SWT akan
mengabulkan doa-doa hambanya pada saat memperbanyak amalan ibadahnya.
Beliau mengatakan bahwa pada saat pelaksanaan
tradisi Tumbilotohe itulah selain
memberikan warna dan ciri khas persatuan dan gotong royong, juga pada malam itu
semua warga merasa bahagia karena adanya semarak Tumbilotohe dan juga lahir
perhatian
dan kepedulian penuh ketulusan dan keikhlasan karena
sulitnya memperoleh minyak tanah pada zaman sekarang serta ditandai dengan
keikhlasan membeli minyak tanah sebagai tanda ikhlas memberi kepada yang berhak
menerima yaitu melalui zakat.
Beliau
juga mengatakan bahwa walaupun zaman sekarang sebagian masyarakat sudah
menggunakan lampu serba listrik dalam kehidupan sehari-hari, tetapi beliau
masih tetap mempertahankan tradisi sesuai warisan leluhur menggunakan lampu
dengan nyala api karena nyala api sesuai dengan arti dari Tumbilo yaitu menyalakan dengan api. Oleh karena itu, perbuatan
yang tidak dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh maka sulit untuk
mencapai derajat iman, sedangkan semua rangkaian persiapan dan pelaksanaan Tumbilotohe dilaksanakan secara gotong
royong artinya inilah bukti orang Gorontalo yang memiliki sifat ikhlas dan ihtisab, maksud ihtisab adalah melakukan suatu perbuatan baik semata-mata
mengharapkan ridho Allah SWT.[78]
C. MAKNA FILOSOFIS DARI SETIAP SIMBOL-SIMBOL
YANG TERDAPAT DALAM TRADISI TUMBILOTOHE
Dalam
pelaksanaan tradisi Tumbilotohe maka
diperlukan rangkaian simbol-simbol yang merupakan bagian terpenting karena
mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Gorontalo. Menurut Bapak Raden Husain selaku tokoh adat mengatakan bahwa
simbol-simbol dalam tradisi Tumbilotohe sangat
diperlukan karena disitulah makna dalam tradisi ini. Simbol-simbol dalam tradisi Tumbilotohe bukan sekedar dibuat begitu saja, disamping memiliki
makna filosofisnya, juga selalu mengikuti anjuran dan himbauan pemerintah
setempat baik ukurannya maupun waktu pelaksanaannya.[79]
Adapun
makna filosofis dari simbol-simbol dalam tradisi Tumbilotohe hasil wawancara peneliti
dengan beberapa tokoh adalah sebagai berikut :
1. Alikusu
Menurut Bapak Raden Husain selaku
tokoh adat bahwa Alikusu adalah
kerangka yang membentuk kubah masjid yang terbuat dari Talilo yang memiliki makna simbolik berupa tempat hidup, atau
tempat tinggal karena disitulah lampu-lampu diletakkan dalam keadaan menyala
dan bermanfaat, sedangkan makna filosofisnya adalah berkumpulnya kesatuan roh
dan jasad, maksudnya adalah jasad itu adalah Tohe sedangkan rohnya adalah cahaya lampu. Selain itu, beliau juga
mengatakan bahwa Alikusu dimaknai
sebagai tempat dari :
a. Lale
yaitu janur kuning sebagai simbol Tuwango
Lipu yaitu masyarakat.
b. Tohe
yaitu lampu sebagai simbol Al-Qur’an yang merupakan petunjuk dan penerang jalan
hidup manusia.
c. Polohungo
yaitu bunga sebagai simbol adanya proses kehidupan yang berwarna-warni.
d. Patodu
yaitu tebu sebagai simbol perilaku masyarakat.
e. Lambi
yaitu pisang sebagai simbol Lala’a
yaitu keluarga dan Lembo’a yaitu
lingkungan.
2. Lale
Lale atau janur kuning sebagai hiasan pada Alikusu yang berbentuk kubah masjid yang memiliki makna simbolik Tuwango Lipu yaitu masyarakat yang
dianjurkan untuk berhias diri dalam menyambut tamu agung Lailatul Qadar, sedangkan makna filosofisnya adalah Lale yang selalu menari tertiup angin
walaupun jumlahnya tidak sampai seribu namun terlihat banyak atau ribuan
sebagai tanda malam kehadiran malam seribu bulan yang disambut oleh ribuan
masyarakat setempat atau umat islam yang selalu bersedia walau kondisi hidupnya
dalam keadaan apapun tetap bersuka cita menerima dan memuliakan dan tidak
menyia-nyiakan serta mengagungkan tamunya yaitu Lailatu Qadar.
3. Tohe
Tohe yang terdiri dari :
a. Padamala
Sejarah Padamala berawal dari Kima (kerang) yang diisi dengan minyak
kelapa dan dibuatkan sumbu, setelah kerang mulai berkurang maka diganti dengan
pepaya yang dibelah dua lalu diisi minyak kelapa dan dibuatkan sumbu. Semakin
lama pepaya juga semakin berkurang maka diganti dengan gelas sebagaimana
tersebut diatas sampai dengan sekarang. Disamping dari Padamala yang terbuat dari gelas, dibuat pula Padamala dari seng atau kaleng.[80]
Menurut Bapak Toto’o Halaa bahwa Kima
memiliki makna filosofis bahwa manusia harus mempunyai azas, dasar atau prinsip
yang kuat yang sesuai dengan petunjuk agama islam agar dalam mencari dan
membuat suatu cahaya kehidupan harus pijakannya tidak mudah membalikan tempat[81]
energi[82]
untuk mempertahankan cahaya. Sedangkan tempat atau wadah dari minyak kelapa dan
sumbu tempat untuk mempertahankan cahaya itu berganti dari waktu ke waktu tetap
memiliki makna yang sama.[83]
a. Butulu
atau botol/kaleng sebagai tempat minyak tanah memiliki makna simbol sebagai
kekuatan hidup dan harus teguh serta sabar sebab bila botol atau kaleng
tersebut goyah tertiup angin maka pastinya lampu pun mati atau padam sedangkan
makna filosofisnya adalah merupakan Al-Qur’an sebagai kekuatan rohani atau
kekuatan iman yang akan memberikan cahaya pada jalan kehidupan (sumbu lampu).[84] Menurut Bapak Toto’o Halaa bahwa inti dari pada Tumbilotohe terdapat pada lampu. Lampu
itu memberikan cahaya yang sering redup bagaikan kehidupan yang kita jalani,
cahaya itu ada pada mata kita untuk melihat semua tentang alam dan ciptaan
Tuhan dan cahaya itu terdapat dalam jiwa kita sebagai penuntun dalam hidup
kita. Beliau mengatakan bahwa tohe-tohe
to mato atau tinelo mato wawu
tohe-tohe to batanga atau tinelo
batanga yang maksudnya adalah bercahaya dimata dan bercahaya dalam diri kita.[85]
b. Menurut Bapak Raden Husain bahwa Tubu yang memiliki makna simbolik
sebagai jalan kehidupan yang berakar pada Al-Qur’an sedangkan makna
filosofisnya adalah sebagai tempat lahirnya cahaya kehidupan yang berakar dari
Al-Qur’an.[86] Hal ini
diperjelas lagi oleh Bapak Hi. Mansyur
Dali, S.Pd. M.Pd selaku tokoh adat mengatakan bahwa itulah
ciri khas orang Gorontalo, karena Tubu
atau sumbu terdiri beberapa untaian benang sebagai tanda bahwa orang Gorontalo
lurus seperti benang dan selalu berupaya untuk bertahan walau tertiup angin dan
apabila kusut (yang dimaksudkan kusut adalah akal dan hatinya) maka pasti
tindakannya sangat kasar. Oleh karena itu, dalam menyalakan lampu mnggunakan
nyala api menurut beliau termasuk membakar perilaku yang mudah kusut dan tetap
selalu berdiri teguh pada Butulu yang
merupakan simbol Al-Qur’an yang akan selalu mendukung cahaya kehidupan.[87]
4. Polohungo
Polohungo adalah sejenis bunga yang beraneka ragam warnanya yang diikat
menjadi satu yang kemudian digantung pada Alikusu
memiliki makna simbol bahwa dalam kehidupan pribadi pasti akan mengalami
warni-warni proses kehidupan, yaitu ada suka ada duka, ada tawa ada sedih, dan
dalam kehidupan bermasyarakat pastinya ada perbedaan namun diikat menjadi satu
yaitu umat islam, sedangkan makna filosofisnya adalah bunga memiliki makna
keindahan sehingga segala macam perbedaan itu sebenarnya indah karena tetap
terpancar oleh cahaya Tohe yang
didukung oleh Butulu sebagai
Al-Qur’an. Hal ini mengingatkan kita bahwa berbeda tanpa wadah yaitu tanpa
pemahaman ajaran islam dalam Al-Qur’an maka pasti tidak akan tercipta kebersamaan atau gotong
royong atau persatuan seperti rakyat Gorontalo dengan suka cita melaksanakan
tradisi Tumbilotohe.[88]
5. Patodu
Menurut Bapak Toto’o Halaa bahwa Patodu memiliki makna simbolik sebagai
pemanis. Makna filosofisnya adalah motivasi untuk berperilaku baik karena
sifatnya Patodu semakin tua usianya
semakin manis pula isinya.[89]
Menurut Bapak Andi
Nurdin, S.Ag selaku tokoh
adat
mengatakan bahwa dengan adanya Tohe sebagai
Al-Qur’an yang memberikan cahaya kehidupan, maka pasti orang akan berperilaku
seperti manfaat tebu yaitu semakin tua usianya semakin manis isinya.[90]
Hal ini diperjelas oleh Bapak Hi. Mansyur Dali, S.Pd. M.Pd bahwa yang lebih
diutamakan adalah perkataan sebab perkataan itu akan menggambarkan perilaku dan
tindakan manusia.
Lo’iya Donggo to
Delomiyo : Ketika
kata masih didalam akal dan hati
Dutuwipo Buto’iyo : Tandai dulu
dengan cara memilah dan memilih apakah sudah baik dan benar yang akan
diungkapkan
Demamopiyohu Tingohiyo : Nanti sudah
dianggap baik dan benar
6. Lambi
Lambi menurut Bapak Raden Husain selaku tokoh adat memiliki makna
simbolik jamaah yang terdiri dari Lala’a yaitu
keluarga dan Lembo’a yaitu lingkungan
yang memiliki makna filosofis yaitu tekad kuat seperti pisang yang enggan mati
sebelum berbuah. Maksudnya adalah selalu memakmurkan Alikusu sebagai tempat tinggal atau simbol masjid yang berarti
rumah jamaah yang artinya bahwa jamaah yang selalu memakmurkan masjid dan
memberikan buah dalam hidupnya berperilaku seperti Patodu untuk jamaah lainnya.[92]
Menurut
Bapak Hi. Mansyur Dali, S.Pd M.Pd
selaku tokoh adat bahwa
makna secara keseluruhan dari semua rangkaian simbol-simbol pada tradisi Tumbilotohe adalah selalu menjadikan
masjid sebagai rumah umat islam walau dijalani dengan segala macam perbedaan
namun tetap bersatu sebagai jamaah yang saling memberikan manfaat melalui
perilaku yang baik dan lakukan dengan suka cita. Bahkan didalam tradisi Tumbilotohe ada 3 (tiga) makna yang
paling penting yaitu :
1.
Ilmu yaitu yang
digambarkan melalui Tohe sebagai
simbol Al-Qur’an yang akan memberi petunjuk atau penerang dalam kehidupan.
2.
Sedekah Jariyah yaitu
adanya membiasakan diri menanamkan rasa sosial dalam mempersiapkan pelaksanaan Tumbilotohe dan ikhlas dalam menunaikan
kewajiban baik puasa, zakat dan dalam perihal ibadah lainnya dalam bulan
Ramadhan.
3.
Anak yang saleh yang
digambarkan dalam Lale dan Lambi sebagai Tuwango Lipu atau masyarakat kiranya berusaha membimbing generasi
selanjutnya agar menjadi anak yang saleh yang nantinya juga akan menjadi Tuwango Lipu atau masyarakat.[93]
Menurut
Bapak Andi Nurdin, S.Ag
selaku tokoh agama bahwa
jika kekuatan salah satu diantara kita mulai redup, maka akan dibantu oleh
kekuatan cahaya dari yang lain. Dan selalu mengingatkan kita bahwa energi atau
kekuatan hidup tetap berlandaskan Al-Qur’an sehingga tetap memberikan cahaya
selama perjalanan dalam hidup kita.
Menurut Bapak Raden Husain selaku tokoh
adat mengatakan bahwa bukan saja makna dari sebuah tradisi yang harus kita
ketahui, namun masyarakat Gorontalo harus mengetahui makna-makna dalam tradisi Tumbilotohe terutama makna filosofisnya dan juga nilai-nilai lainnya
seperti nilai sejarah karena hal itu merupakan awal
terjadinya atau lahirnya sebuah tradisi yang terutama mengenang perjuangan awal
dan pengorbanan orang-orang terdahulu yang tidak lain adalah nenek moyang kita
sendiri.[94]
Adapun
makna-makna yang terdapat dalam tradisi Tumbilotohe selain makna filosofis
adalah sebagai berikut :
1. Makna
Filosofis Tradisi Tumbilotohe
Dipandang Dari Nilai Sejarah
Sejarah berasal dari bahasa Arab ïº¸ïº ïº®ïº“
“syajaratun” yang berarti pohon dan juga keturunan atau asal-usul.[95]
Ilmu sejarah menurut Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqqadimat ialah : pelapuran dari suatu babakan waktu atau dari
tingkatan turunan manusia.[96]
a. Makna Filosofis Kaitannya Dengan Masuknya Islam
di Gorontalo
Tradisi Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad
XV.[97]
Berarti sudah 1500 tahun yang lalu atau dimulai pada tahun 500-an.[98]
Menurut
Bapak Raden Husain selaku tokoh adat mengatakan bahwa islam masuk di
Gorontalo saat itu pada tahun 400-an.[99]
Dalam
catatan sejarah, Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan
salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado.
Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di
Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo dan Bone.[100] Oleh karena itu, menurut Bapak Raden Husain selaku
tokoh adat bahwa saat itu belum ada masjid dan pada tahun 500-an umat
islam membicarakan tentang islam paling banyak pada malam hari karena waktu
siang hari merupakan waktu untuk bekerja, sehingga banyak masyarakat saat itu
membakar rumput nanti pada malam hari dan menyalakan lampu kemudian digantung
pada pohon-pohon didepan rumah sehingga sudah mulai tradisi masyarakat.[101]
b. Makna Filosofis Kaitannya Dengan Kemerdekaan
Gorontalo
Peristiwa 23
Januari 1942 bukan hanya bernuansa politik dan nasionalis dengan jiwa
patriotisme, tetapi juga bernuansa budaya. Dalam lembaga (pranata) budaya
Gorontalo terdapat suatu petuah bagi pemimpin yaitu Bangusa Ta:lalo ‘Bangsa Dijaga’ dan Lipu Poduluwalo ‘Tanah Air Dibela’.[102]
Oleh karena itu, menurut Bapak Raden Husain selaku tokoh adat mengatakan bahwa saat
itu moral dan etika tetap dipertahankan bahkan mulai saat itu lahirlah Hulunga sebelum diganti dengan Huyula yang mengandung arti yang sama
yaitu gotong royong. Dengan adanya rasa kekeluargaan dan persatuan inilah
tradisi menggantung lampu dipohon-pohon tetap terus berlanjut namun disesuaikan
dengan situasi dan kondisi tertentu saat itu karena penjajah saat itu
berpindah-pindah tempat.[103]
2. Makna
Filosofis Dipandang Dari Nilai Sosial
Perubahan perilaku sosial dianggap sebagai proses
eksternalisasi, objektivasi maupun internalisasi. Siapa membentuk apa,
sebaliknya apa mempengaruhi siapa. Bagaimana masyarakat memahami agama hingga
bagaimana peran-peran lokal mempengaruhi perilaku sosial keberagamaan mereka.[104]
Menurut Bapak Andi Nurdin, S.Ag
selaku tokoh agama
bahwa tradisi Tumbilotohe merupakan
wujud kerja sama antar umat islam karena umat islam saat itu telah membantu
memudahkan tetangga lainnya untuk menuju ke masjid karena tetangga saat itu
jarak rumah tetangga satu dengan lainnya sangatlah jauh. Disamping itu, sistem barter (tukar menukar barang) masih
berlaku saat itu, sehingga yang memiliki kelebihan janur kuning atau Lale diberikan kepada yang memerlukan
dan ditukar dengan tebu atau Patodu
atau sejenis keperluan lainnya untuk memenuhi pengadaan simbol-simbol dalam
tradisi Tumbilotohe.[105]
Menurut Bapak Abdul
Rajak Rauf selaku tokoh pendidikan bahwa rasa sosial pada
saat pelaksanaan tradisi Tumbilotohe
juga dimanfaatkan untuk saling berbagi melalui pengeluaran zakat. Hal ini tentunya untuk mendidik generasi selanjutnya
untuk selalu saling berbagi terutama untuk menanamkan rasa ikhlas dalam setiap
memberikan sesuatu.[106]
3. Makna
Filosofis Dipandang Dari Nilai Budaya
Menurut Bapak
Iyong
Botutihe selaku
Kepala Desa Popalo bahwa
pada saat itu tradisi Tumbilotohe mudah
diterima oleh setiap generasi. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka
semakin membudaya pula tradisi Tumbilotohe.
Setiap bertambahnya generasi dengan mudah menerima dan memahami arti pentingnya
keberadaan tradisi Tumbilotohe yang
sampai saat ini menjadi warna dan ciri khas Gorontalo setiap malam 27 bulan
Ramadhan yang sudah dikenal dinusantara. Sehingga pada pelaksanaan tradisi Tumbilotohe, semua mata tertuju dan
teringat daerah Gorontalo. Hal ini dibuktikan dengan adanya tradisi Tumbilotohe, orang-orang Gorontalo yang
tersebar didaerah-daerah diluar Gorontalo teringat kampung halamannya dan ingin
segera kembali ke Gorontalo. Sehingga tidak heran lagi bahwa setiap menjelang
pelaksanaan tradisi Tumbilotohe
banyak orang-orang Gorontalo yang tersebar diluar daerah Gorontalo ikut
meramaikan arus mudik. Berarti tradisi mudik bagi orang-orang Gorontalo yang
berada diluar daerah paling banyak pada saat menjelang pelaksanaan tradisi Tumbilotohe..[107]
4. Makna
Filosofis Dipandang Dari Nilai Agama
Menurut Bapak Andi Nurdin, S.Ag
selaku tokoh agama mengatakan
bahwa tradisi Tumbilotohe sangat erat
dengan nilai agama karena dengan adanya tradisi Tumbilotohe ini lebih memotivasi semangat ibadah umat islam. Karena
mulai saat pelaksanaan tradisi Tumbilotohe
mengingatkan masyarakat Desa Popalo pada khususnya bahwa masa berlalunya
bulan suci Ramadhan dan hari kemenangan tinggal 3 (Tiga) hari lagi sehingga
masyarakat berlomba-lomba untuk meningkatkan amalan ibadahnya. Baik berupa
memperbanyak sholat pada malam hari, itiqaf
dimasjid, mengingatkan waktunya membayar zakat, memperbanyak bacaan Al-Qur’an,
dan sebagai malam turunnya Lailatul
Qadar. Tradisi Tumbilotohe dimaknai
sebagai salah satu tradisi yang memiliki nilai dan pesan yang penting. Nilai
dan pesan tersebut terlihat dari bentuk Alikusu
yang menyerupai kubah masjid, oleh karena itu, tradisi Tumbilotohe bagi masyarakat Gorontalo dianggap merupakan suatu
ruang lingkup atau bagian dari islamisasi budaya karena sangat erat dengan
pesan-pesan agama.[108]
Dengan
hasil penelitian ini, kiranya menjadi motivasi bagi kita agar tetap memelihara
dan melestarikan tradisi Tumbilotohe yang
memiliki pesan nilai yang sangat penting kepada generasi-generasi akan datang.
Menurut Bapak Gaflan Bausin, S.Pd.I selaku
Sekertaris Desa Popalo bahwa untuk
mempertahankan kelestarian tradisi Tumbilotohe
kedepannya merupakan tanggungjawab pemerintah terutama pemerintah desa dan
kedepannya pemerintah desa Popalo berupaya untuk mengadakan taman baca dan galeri
budaya untuk pengkaderan remaja desa dan masyarakat agar semua adat masih dapat
dipertahankan dan dilestarikan. Menurut beliau bahwa tradisi itu termasuk adat,
sedangkan adat menurut beliau ada yang mengartikan kelaziman dalam suatu negeri
dan ada juga yang mengartikan bahwa peraturan hidup sehari-hari, namun menurut
beliau bahwa adat adalah singkatan dari adab dan aturan, kedua kata tersebut
mengandung arti sama yaitu aturan, namun adab merupakan aturan yang dipandang
dari segi agama dan aturan merupakan bagian dari tata kelola pemerintah, pimpinan keluarga atau pimpinan dalam
sebuah organisasi. Oleh karena itu, sebuah tradisi temasuk tradisi Tumbilotohe dapat dipertahankan dan terus
dilestarikan apabila masyarakatnya selalu dididik tentang Adabu atau adab mulai dari rumah tangga, disekolah-sekolah dan
ketika menjadi masyarakat usia remaja.[109]
Menurut Bapak Andi Nurdin, S.Ag selaku tokoh
agama bahwa dalam mempertahankan tradisi Gorontalo harus ada
campur tangan pemerintah terutama menyangkut biaya dalam pelaksanaan
sosialisasi tentang makna-makna setiap tradisi.[110]
Sama halnya yang dikatakan oleh Bapak Abdul Rajak Rauf selaku tokoh pendidikan
bahwa keistimewaan dari setiap daerah diseluruh nusantara
adalah dari tradisi, adat dan budayanya, tradisi
disetiap daerah seharusnya dimasukkan dalam pelajaran Mulok dan hal ini
tentunya harus dimasukkan dalam kurikulum oleh yang berwenang, dan untuk setiap
pemerintah desa harus ada pengkaderan yang bekerja sama dengan tokoh-tokoh adat
setempat. Sehingga dalam suatu pentas budaya yang
memperkenalkan tradisi, adat maupun budaya dari setiap daerah, tidak kacau dan
tidak bingung untuk mencari pesertanya.[111]
BAB
V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, maka peneliti
dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam pelaksanaan tradisi Tumbilotohe di desa Popalo Kecamatan
Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara telah berlangsung secara turun temurun secara
regenerasi dan masih memiliki keaslian tradisi Tumbilotohe.
2. Makna secara keseluruhan dari semua
rangkaian simbol-simbol pada tradisi Tumbilotohe
adalah selalu menjadikan masjid sebagai rumah umat islam walau dijalani
dengan segala macam perbedaan namun tetap bersatu sebagai jamaah yang saling
memberikan manfaat melalui perilaku yang baik dan melakukan dengan suka cita
karena kekuatan salah satu diantara kita mulai redup, maka akan dibantu oleh
kekuatan cahaya dari yang lain. Dan selalu mengingatkan kita bahwa energi atau
kekuatan hidup tetap berlandaskan Al-Qur’an sehingga tetap memberikan cahaya
selama perjalanan dalam hidup kita.
B. SARAN
Dalam
pelaksanaan tugas tanggung jawab ilmiah, tentunya peneliti memiliki
harapan-harapan yang dituangkan dalam bentuk saran berikut ini :
1. Sesuai manfaat penelitian yang diuraikan
pada bab I, maka peneliti berharap dalam penyelesain tanggung jawab ilmiah ini
bermanfaat sebagai nilai tambah baik bagi peneliti, masyarakat di desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara maupun bagi pembaca pada umumnya
dan khususnya bagi masyarakat Gorontalo.
2. Peneliti berharap bahwa hasil penelitian
ini bernilai ibadah dan menjadi motivasi bagi kita semua dalam mempertahankan,
memelihara dan melestarikan tradisi Tumbilotohe.
3. Diharapkan agar hasil penelitian ini
menjadi sebuah ilmu pengetahuan tentang Tumbilotohe,
dan menjadi informasi dan bahan pembelajaran terutama dilingkungan Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek, Jakarta; Rineka Cipta, 1993.
Al-Audah,
SyaikhbSalman Bin Fahd, Bisa Jadi, Ini
Ramadhan Terakhir Bagi Kita, Solo; Pustaka Arafah, 2013
Daulima,
Farha Hj dan Hamzah, Irwan Drs.Hi. Pesona Wisata Tumbilotohe
Setiap 27 Ramadhan di Wilayah Propinsi Gorontalo, Limboto; Galeri Budaya LSM Mbu’i
Bungale, 2007
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Bandung; CV. Penerbit Jumanatul Ali Art (J-Art), 2005.
Ghufron, Ali Lc, Lailatul Qadar
Memburu Malam Seribu Bulan, Jakarta; Amzah, 2010
Ismail, Fu’ad Farid. Dr dan
Mutawalli, Abdul Hamid. Dr, Cara Mudah
Belajar Filsafat, Jokjakarta; IRCiSoD Cet. II, 2012
M. S. Kaelan, Drs, Metode
Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, Yokyakarta; Paradigma, 2005
Mardalis Drs, Metode Penelitian
Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta; Rineka Cipta, 2010
Mobiliu, Ali. Motoyunuto,
Gorontalo; Ideas Publishing, 2013
Nawawi, Imam. Terjemah Riyadhus
Shalihin Jilid 1, Jakarta; Pustaka Amani, 1999.
Pateda, Mansoer. Semantik Leksikal, Jakarta: Rineka Cipta,
2001
---------------------, Kamus
Bahasa Gorontalo-Indonesia, Jakarta; Balai Pustaka, 2001
S.
Sumargono. Metodologi Penelitian
Pendidikan, Cet II, Jakarta; Rineka Cipta, 2000.
Salam,
Burhanuddin Drs. Pengantar
Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, 2012
Suhartono, Suparlan, M.Ed. Ph.D. Filsafat
Pendidikan, Jokjakarta; Ar-Ruzz Media, 2007
Surajiyo Drs. Ilmu Filsafat Suatu
Pengantar, Jakarta;
Bumi Aksara, 2005
Syani, Abdul Drs. Sosiologi dan Perubahan
Masyarakat,
Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1995
Syihab, Tgk.
H.Z.A, Drs. Tuntunan Puasa Praktis,
Jakarta; Amzah, 2009
Tim Penyusun Kamus Besar, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Usman, Husain dan Akbar, Setiady Purnomo, Metodologi Penelitian, Cet I, Jakarta; Bumi Aksara, 2001
Academia.Edu, http://www.academia.edu/4132898/Pendekatan_Filosofis_dalam_Pemikiran_Pendekatan_Islam,
Bramastana Dewangga, Definisi dan Pengertian Tradisi, http://ixe11.blogspot.com/2012/07/definisi-dan-pengertian-tradisi.html
Dewi Aysiah, Makalah Manusia dan Peradaban (Ilmu Sosial
Budaya Dasar), http://dewiaysiah.blogspot.com/2012/04/makalah-manusia-dan-peradaban-ilmu.html,
Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Departemen http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php.
Ebta Setiawan, Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), http://kbbi.web.id/makna,
Faisol Hezim, Makalah Tentang Pelestarian Tradisi
Tumbilotohe Sebagai Kekayaan Budaya Gorontalo,http://fairulfh.blogspot.com/2013/10/makalah-tentang-pelestarian-tradisi.html,
Kamus
Besar, http://www.kamusbesar.com/27364/nyala,
Putra
Wahyuza, S.Pd.I, 1. Pendekatan Sejarah,
Sosiologi,Filosofis,Fenologis, Teologis,http://putrawahyuza.blogspot.com/2011/10/1-pendekatan-sejarah-2-pendekatan.html,
Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbilotohe
Wonderful Indonesia, http://www.indonesia.travel/id/destination/336/teluk-tomini-dan-pantai-olele/article/118/malam-tumbilotohe-menikmati-gorontalo-yang-ramai-berhiasakan-lampu
Bausin,
Gaflan. S.Pd.I, 2014, Wawancara, Desa
Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Botutihe,
Iyong, 2014, Wawancara, Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Dali,
Hi. Mansyur, M.Pd, 2014, Wawancara,
Desa Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Hadi,
Irpan, 2014, Wawancara, Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Halaa,
Heriyanto, 2014, Wawancara, Desa
Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Halaa,
Toto’o, 2014, Wawancara, Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Husain,
Raden, 2014, Wawancara, Desa Popalo
Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Nurdin,
Andi. S.Ag, 2014, Wawancara, Desa
Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
Rauf,
Abdul Rajak, 2014, Wawancara, Desa
Popalo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara
[1] Jusuf Soewadji, MA, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta
: Mitra Wacana Media, 2012, hal. 1.
[2] Bramastana
Dewangga, Definisi dan Pengertian Tradisi,
Selasa, 10 Juli 2012, http://ixe11.blogspot.com/2012/07/definisi-dan-pengertian-tradisi.html, diakses Sabtu, 03 Nopember 2014 Pikul 23:30.
[5] Kamus Besar, http://www.kamusbesar.com/27364/nyala,
dikases hari Sabtu, 08 Nopember 2014, Pukul 11.50.
[6] Departemen Pendidikan Nasional,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses pada hari Sabtu, 08
Nopember Pukul 12.00.
[8] Jusuf Soewadji, MA, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta
: Mitra Wacana Media, 2012, hal. 83.
[9] Ibid, hal. 92
[10] Ebta
Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), http://kbbi.web.id/makna, April 2014, Diakses Selasa, 21 Oktober 2014 Pukul 19:30
[11] Drs.
Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta;
Bumi Aksara, 2005, hal 1
[12] Ebta
Setiawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), http://kbbi.web.id/makna, April 2014, Diakses Selasa, 21 Oktober 2014 Pukul 19:40
[14] Prof. Dr. Hj. T. Fatimah
Djajasudarma, Semantik 1 Makna Leksikal
dan Gramatikal, Cet. IV, Jakarta : PT. Refika Aditama, 2009, hal. 7
[15] Dr. Fu’ad Farid Ismail dan Dr.
Abdul Hamid Mutawalli, Cara Mudah Belajar
Filsafat, Jokjakarta; IRCiSoD Cet. II, 2012, hal. 18.
[20] Prof. Dr. Hj. T. Fatimah
Djajasudarma, Semantik 1 Makna Leksikal
dan Gramatikal, Cet. IV, Jakarta : PT. Refika Aditama, 2009, hal. 29
[21] Ibid, hal. 28
[23] academia.edu, http://www.academia.edu/4132898/Pendekatan_Filosofis_dalam_Pemikiran_Pendekatan_Islam, dipostkan oleh H. Silvia Marlina, diakses pada hari Jum’at, 07 Nopember 2014
[26] Drs. Abdul
Syani, Sosiologi dan Perubahan Masyarakat,
Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1995, hal. 53
[27] Dewi Aysiah, Makalah Manusia dan Peradaban (Ilmu Sosial
Budaya Dasar), http://dewiaysiah.blogspot.com/2012/04/makalah-manusia-dan-peradaban-ilmu.html, Rabu, 18 April 2012, 19:18, Diakses Rabu, 22 Oktober
2014, Pukul 16.00.
[28] Hj.
Farha Daulima dan Drs. Hi. Irwan Hamzah, M.Sc, Pesona Wisata Tumbilotohe Setiap 27 Ramadhan di Wilayah Propinsi
Gorontalo, Limboto; Galeri Budaya LSM Mbu’i Bungale, 2007, hal. 13.
[29] Faisol
Hezim, Makalah Tentang Pelestarian
Tradisi Tumbilotohe Sebagai Kekayaan Budaya Gorontalo, http://fairulfh.blogspot.com/2013/10/makalah-tentang-pelestarian-tradisi.html, 2013, diakses Sabtu, 08 Nopember 2014 Pukul 11.30.
[30] Suparlan Suhartono, M.Ed, Ph.D,
Filsafat Pendidikan, Jogjakarta ;
Ar-Ruzz Media, 2007, hal. 109.
[31] Ali
Mobiliu, Motoyunuto, Gorontalo Ideas
Publishing, 2013, hal 15.
[32] Ibid, hal. 16
[34] Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus Shalihin Jilid 1, Jakarta ; Pustaka Amani, Cet.
IV, 1999, hal. 7
[35] Faisol
Hezim, Makalah Tentang Pelestarian
Tradisi Tumbilotohe Sebagai Kekayaan Budaya Gorontalo, http://fairulfh.blogspot.com/2013/10/makalah-tentang-pelestarian-tradisi.html, 2013, diakses Kamis, 23 Oktober 2014 Pukul
06.00.
[37] Ali
Mobiliu, Motoyunuto, Gorontalo Ideas
Publishing, 2013, hal 19.
[38] Hj. Farha
Daulima dan Drs. Hi. Irwan Hamzah, M.Sc, Pesona
Wisata Tumbilotohe Setiap 27 Ramadhan di Wilayah Propinsi Gorontalo,
Limboto; Galeri Budaya LSM Mbu’i Bungale, 2007, hal. 29.
[39] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung ; CV. Penerbit Jumanatul Ali-Art
(J-Art), 2005, hal. 497.
[41] Wonderful
Indonesia, http://www.indonesia.travel/id/destination/336/teluk-tomini-dan-pantai-olele/article/118/malam-Tumbilotohe-menikmati-gorontalo-yang-ramai-berhiasakan-lampu, Diakses, Kamis 23 Oktober 2014, Pukul 06.30
[42] Syaikh Salman Bin Fahd Al-Audah, Bisa Jadi, Ini Ramadhan Terakhir Kita,
Solo ; Pustaka Arafah, 2013, hal. 178
[44] Ali Ghufron, Lc. Lailatul Qadar Memburu Malam Seribu Bulan, Jakarta ; Amzah, Cet I,
2010, hal. 19
[45] Hj. Farha
Daulima dan Drs. Hi. Irwan Hamzah, M.Sc, Pesona
Wisata Tumbilotohe Setiap 27 Ramadhan di Wilayah Propinsi Gorontalo,
Limboto; Galeri Budaya LSM Mbu’i Bungale, 2007, hal. 14-15
[47] Wonderful
Indonesia, http://www.indonesia.travel/id/destination/336/teluk-tomini-dan-pantai-olele/article/118/malam-Tumbilotohe-menikmati-gorontalo-yang-ramai-berhiasakan-lampu, Diakses, Kamis 23 Oktober 2014, Pukul 06.30
[48] Hj. Farha Daulima dan Drs. Hi. Irwan Hamzah, M.Sc, Pesona Wisata Tumbilotohe Setiap 27 Ramadhan
di Wilayah Propinsi Gorontalo, Limboto; Galeri Budaya LSM Mbu’i Bungale,
2007, hal. 15.
[49] Dr. Kaelan, M.S, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, Yokyakarta :
Paradigma, 2005, hal. 7
[50] Drs. Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Cet. XII, Jakarta :
PT. Bumi Aksara, 2010, hal. 26
[51] Aji Damanuri, M.E.I, Metodologi Penelitian Mu’amalah, Yokyakarta
: STAIN Press Ponorogo, 2010, hal. 9
[53] Dr.
Kaelan, M.S, Metode Penelitian Kualitatif
Bidang Filsafat, Yokyakarta : Paradigma, 2005, hal. 5
[54] Aji Damanuri, M.E.I, Metodologi Penelitian Mu’amalah, Yokyakarta
: STAIN Press Ponorogo, 2010, hal. 29
[55] Drs. Mardalis, Metode Penelitian
Suatu Pendekatan Proposal, Cet. XII, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2010, hal.
25
[56] Putra Wahyuza, S.Pd.I, 1. Pendekatan Sejarah, Sosiologi,Filosofis,Fenologis, Teologis,http://putrawahyuza.blogspot.com/2011/10/1-pendekatan-sejarah-2-pendekatan.html, Minggu, 30 Oktober 2011, diakses Sabtu, 08
Nopember 2014, Pukul 09.20 WITA.
[57] Jusuf Soewadji, MA, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta
: Mitra Wacana Media, 2012, hal. 21.
[58] Aji Damanuri, M.E.I, Metodologi Penelitian Mu’amalah, Yokyakarta
: STAIN Press Ponorogo, 2010, hal. 68
[59] Jusuf Soewadji, MA, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta
: Mitra Wacana Media, 2012, hal. 147
[60] Loccit
[61] Anselm Strauss dan Juliet
Corbin, Dasar-Dasar Penelitian
Kualitatif, Cet. III, Yokyakarta : 2009, hal. 43.
[62] Aji Damanuri, M.E.I, Metodologi Penelitian Mu’amalah, Yokyakarta
: STAIN Press Ponorogo, 2010, hal. 1
[63] Ibid, hal. 11
[64] T. O. Ihromi, Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta
; Yayasan Obor Indonesia, 2006, hal. 51
[65] Jusuf Soewadji, MA, Pengantar
Metodologi Penelitian, Jakarta : Mitra Wacana Media, 2012, hal. 160
[66] Aji Damanuri, M.E.I, Metodologi Penelitian Mu’amalah, Yokyakarta
: STAIN Press Ponorogo, 2010, hal 84
[67] Ibid, hal 86
[68] Loccit
[69] Husain Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian, Cet I, Jakarta;
Bumi Aksara, 2001, hal 86-87.
[70] Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif,
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003, hal. 204.
[71] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta; Rineka
Cipta, 1993, hal 53
[73] Dr. Mansoer Pateda, Kamus Indonesia-Gorontalo, Jakarta :
Balai Pustaka, 1991, hal. 30.
[74] Ibid, hal. 29
[80] Dokumen Perpustakaan Umum Kabupaten
Gorontalo, Pohutu Untuk Umum.pdf, File
Foxit Reader 2.3, Page 19, hal. 18
[81] Menurut Toto’o Halaa, Tokoh Adat, Wawancara, Anggrek, Senin, 24 Nopember 2014
bahwa tempat yang dimaksud adalah Kima
atau kerang.
[82] Menurut Toto’o Halaa, Tokoh Adat, Wawancara, Anggrek, Senin, 24 Nopember 2014
bahwa energi yang dimaksud adalah minyak kelapa.
[86] Raden Husain, Tokoh Adat dan Tokoh Pendidikan
serta Mantan Tokoh Pemerintahan, Wawancara,
Anggrek, Selasa, 25 Nopember 2014
[95] William H. Frederick dan Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan
Sesudah Revolusi, Cet. III, Jakarta ; Unit Percetakan LP3ES, hal. 1
[97] Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbilotohe,
diakses Sabtu, 06 Desember 2014, Pukul 20.15
[98] Menurut hitungan peneliti bahwa 1 abad sama dengan
100 tahun, dalam sejarah Tumbilotohe terjadi
pada abad XV berarti 100 x 15 sama dengan 1.500 tahun yang lalu atau sekitar tahun 500-an.
[100] Islam Dunia, http://kota-islam.blogspot.com/2014/05/sejarah-masuk-islam-di-kerajaan-gorontalo.html,
diakses, Sabtu, 06 Desember 2014, Pukul 20.45
[102] Dr. Ir. H. Sudirman Habibie dan Drs. Rasin
Dama dan Drs. Faisal M. Dungga dan Prof. Dr. H. Nani Tuloli dan Drs. Z. Tulie
dan Prof. Drs. Ibrahim Polontalo dan Drs. Bin Yamin Mahdang, 23 Januari 1942 dan Nasionalisme Nani
Wartabone, Cet. I, Gorontalo : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi
Gorontalo, 2004
[104] Dr. H. Roibin, M.Hi, Relasi Agama dan Budaya Masyarakat
Kontemporer, Malang : UIN-Malang Press, 2009, hal. 71
[111] Abdul Rajak Rauf, Tokoh Pendidikan, Wawancara, Anggrek, Rabu, 26 Nopember
2014
BIODATA PRIBADI
![]() |
| Susanto Halaa Eda |
Susanto Halaa Eda, Lahir di Limboto 20 September 1980, anak sulung dari dua bersaudara dari Bapak Umar Halaa yang bekerja sebagai Petani dan Ibu Hadawijah Eda sebagai Pensiunan Guru Sekolah Dasar.
Riwayat Pendidikan yang di tempuh mulai dari Lulusan Sekolah Dasar Negeri III Tolongio Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Provinsi Sulawesi Utara Tahun 1992, Lulusan Sekolah Menengah Tingkat Pertama Negeri 2 Kwandang Kabupaten Gorontalo Provinsi Sulawesi Utara Tahun 1995, Lulusan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Limboto Tahun 1998. Sempat melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Gorontalo Program Studi Matematika Jurusan IPA namun hanya berhenti pada Semester I, kemudian Tahun 2003 menjadi menyelesaikan Diploma 1 Jurusan Komputerisasi Akuntansi di Sekolah Tinggi Manajamen dan Ilmu Komputer (STMIK). Tahun 2015 sementara menyelesaikan Skripsi sebagai syarat penyelesaian Strata 1 Jurusan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar